Berita  

Klimaks Drama Catur: Dadang Subur ‘Dewa Kipas’ Kalah Telak dari GM Irene Sukandar

klimaks-drama-catur:-dadang-subur-‘dewa-kipas’-kalah-telak-dari-gm-irene-sukandar

Tahun ini baru berjalan hampir tiga bulan, tapi polemik Dewa Kipas patut digelari salah satu drama internet terbaik 2021.

Berawal dari saling tuduh netizen antarnegara gara-gara duel catur di situs chess.com, Dadang Subur selaku pemilik akun Dewa Kipas dirayu raja YouTube Indonesia, Deddy Corbuzier, untuk memperlihatkan kemampuannya di depan Grandmaster Perempuan Irene Sukandar. Pertandingan bikin banyak orang penasaran karena khalayak ingin tahu: emang Dadang sejago apa sih?


Duel Irene vs Dewa Kipas beneran terselenggara hari ini sesuai janji, pukul 15.00 WIB tadi di YouTube Deddy. Sempat disaksikan satu juta penonton, pertandingan Dadang versus Irene dilakukan lewat mode catur cepat (rapid chess) sebanyak empat partai: dua kali menggunakan bidak hitam, dua kali menggunakan bidak putih untuk mencari pemenang dengan tiga kali kemenangan.

Mode ini dianggap pas dimainkan sebab catur cepatlah yang melambungkan nama Dewa Kipas di situs chess.com dengan tingkat akurasi langkah 95-99 persen, mengalahkan pecatur Amrik Levy Rozman alias GothamChess.

Siaran YouTube ini berlangsung layaknya acara televisi. Selain hiasan running text dari sponsor komersial, Grandmaster Susanto Megantoro dan Women International Master Chelsie Monica mengisi keheningan pertandingan dengan menjadi komentator.

Susanto dan Chelsie memperkenalkan istilah-istilah dasar catur selagi menjelaskan apa yang sedang terjadi di papan. Namun, layaknya penonton yang emang tidak pernah menonton pertandingan catur, banyak orang yang tetap kebingungan.

Dengan semangat masyarakat sipil nan awam, berikut laporan pandangan mata pertandingan sore tadi yang VICE susun dari apa yang kedua komentator tadi bicarakan.

Babak pertama: Irene 1-0 Dadang

Muka kedua pemain sama-sama serius, mempersiapkan diri menghadiri tekanan pertandingan catur dengan jumlah penonton langsung yang mungkin terbanyak sepanjang hidup keduanya.

Irene kebagian bidak putih, Dadang menggunakan bidak hitam. Susanto menjelaskan, siapa pun pengguna bidak putih punya keistimewaan menyerang karena melangkah lebih dulu. Benar saja, pada pembukaan permainan, Irene menyerang dan Dadang terlihat memperkuat pertahanan. Setidaknya begitu kata Susanto dan Chelsie, mari kita percaya saja.

“Pak Dadang sepertinya menggunakan pertahanan Caro-Kann,” kata Susanto. Pertahanan yang mirip nama aktor Bollywood ini disebut Wikipedia sebagai mode yang biasa dipilih pemain bidak hitam untuk tidak terlalu frontal bertarung demi mencapai barisan bidak yang solid. 

Kapan itu solid? Sayang, sebelum kita tahu makna solid sebenarnya, Dadang (menurut komentator) melakukan blunder setelah memberi bidak gajahnya (orang kampung kayak saya menyebutnya “luncur”) secara cuma-cuma untuk dimakan Irene. Dari sana, pertahanan Caro-Kann yang dibangun Dadang runtuh, berubah jadi pertahanan kerokan. Dadang menyerah, 1-0 untuk Irene.

Di sela-sela menanti babak kedua, Chelsie menjelaskan berbagai gelar profesional pecatur kepada pemirsa: paling tinggi Grandmaster, lalu di bawahnya International Master, FIDE Master, dan Candidate Master. Untuk perempuan sendiri ada gelar eksklusif Woman Grandmaster, lalu Woman International Master, dan sebagainya. Nah, Irene sendiri bergelar Women Grandmaster sekaligus International Master di kelas campur. Tapi, gelar ini kurang umum diterakan dalam undangan pernikahan karena bukan itu fungsinya. Semoga sampai sini paham.

Babak kedua: Irene 2-0 Dadang

Setelah istirahat sekitar 15 menit, permainan berlanjut dengan pergantian bidak: Dadang bidak putih, Irene hitam.

“Untuk pembukaan, biasanya keputusan pion maju satu langkah mengindikasikan pemain akan berfokus pada posisi [positional], sementara pion maju dua langkah mengindikasikan pemain yang agresif,” kata Susanto, atau Chelsie, atau keduanya. Saya sedikit lupa karena mereka cepat sekali ngomongnya.

Dadang memutuskan ambil langkah pion maju dua langkah.

Melihat percobaan serangan agresif Dadang dengan mengandalkan kudanya, Irene memutuskan menjalankan pertahanan Hindia Nimzo. Kembali mencontek Wikipedia, pertahanan ini dilakukan pengguna bidak hitam untuk mengorbankan kudanya demi menempatkan posisi para perwira yang lebih strategis. (Oh ya, bidak baris belakang catur disebut para perwira, baris depan disebut pion.)

Babak kedua dimulai dengan pelan-pelan, tidak ada makan-memakan terjadi setidaknya di delapan langkah pertama. Namun, Susanto menyebut secara teori, Irene lebih unggul sebab seluruh bidak sudah bergerak “keluar” dan punya posisi lebih bagus. Sementara, Dadang terus fokus menggerakkan kudanya demi terbukanya kesempatan menyerang. Lalu apa yang dilakukan Deddy Corbuzier? Ia beberapa kali datang ke meja komentator untuk melontarkan pertanyaan pancingan seperti, “Menurut Anda, level Pak Dadang setingkat apa?” yang bisa memanaskan pertandingan lain di kolom komentar netizen. Sejauh ini, komentator kedua kubu tidak terpancing dan namaste-namaste aja.

Harapan pembalasan Dadang muncul setelah waktu Irene bermain tinggal 3 menit 40 detik, sementara Dadang masih 6 menit. Namun, Dadang kembali melakukan blunder setelah berpikir terlampau lama pada satu langkah yang disebut Susanto, “seharusnya” tampak jelas (saat itu kuda yang terancam harusnya dimundurkan oleh Dadang). Mendengar ini, saya harus ingatkan GM Susanto bahwa yang pasti di dunia ini hanyalah kematian dan klarifikasi artis di podcast Deddy. 

Setelah berpikir terlampau lama, Dadang justru memajukan satu pionnya yang berakhir mati tanpa arti. Chelsie menyebut langkah ini justru “membantu” Irene memenangkan pertandingan. Dari blunder ini, permainan langsung timpang karena Irene seakan enggak kasih celah Dadang untuk recovery. Sampai akhirnya Dadang kena posisi “garpu”, istilah untuk keadaan dua bidak terancam dan Dadang harus memilih mana yang diselamatkan. Tidak lama, Dadang pun menyerah. Skor 2-0 untuk Irene.

Babak Ketiga: Irene 3-0 Dadang

Kembali punya “kewajiban menyerang” sebagai bidak putih, Irene disebut Susanto sedang merencanakan pembukaan London System alias menempatkan pion, gajah, dan kuda duluan. Kalau kata situs chess.com, pembukaan ini untuk mengantisipasi pergerakan agresif bidak hitam sekaligus memberi kesempatan bidak putih agar lebih leluasa menempatkan diri di posisi strategis buat persiapan di tengah babak. Irene dinilai bersiap Dadang akan lebih agresif di babak ketiga mengingat ia tertinggal skor.

Benar saja, Dadang terlihat lebih tangkas. Setiap langkah diambil dengan lebih yakin dan cepat. Kembali, kuda jadi senjata utama. Namun, pertandingan bisa dibilang berakhir saat Dadang kembali blunder, menempatkan dirinya sendiri di posisi garpu, sehingga dipaksa memilih mau selamatkan menteri dan benteng.

Setelah Dadang mengorbankan bentengnya, chelsie bilang pertandingan  tak imbang sebab bidak catur Dadang “kalah kualitas” dari Irene. Istilah ini dipakai untuk keadaan di mana kuantitas bidak kedua pemain sama, namun pangkatnya beda. Ini karena Dadang sudah kehilangan benteng, sementara Irene hanya kehilangan kuda.

Tidak lama kemudian Dadang menyerah. Skor 3-0 untuk Irene.

Pertandingan berakhir pun berakhir. Berkat hadiah dari sponsor dan penyelenggara, Irene membawa pulang Rp200 juta, hadiah yang disebutnya setara peraih medali emas SEA Games. Selepas pertandingan, Irene menilai perdebatan netizen soal Dewa Kipas sebaiknya dihentikan. Dia tak ingin muncul kesan dia dan rekan-rekan pecatur profesional di Percasi menjatuhkan reputasi Dadang yang melejit sejak ribut-ribut di chess.com.

“Saya meminta dan memohon publik untuk tidak menghujat Pak Dadang Subur. Sebelumnya, saya mendapat hujatan setelah menjadi bintang tamu podcast Deddy Corbuzier,” ucap Irene Sukandar. “Melalui pertandingan seperti ini, kami menjalin persahabatan dan silaturahmi.”

Dadang, sekalipun kalah, tetap meraup Rp100 juta. Satu-satunya kekurangan penutupan pertandingan hanya absennya Ali Akbar, anak Dadang yang pertama bikin ramai drama Dewa Kipas vs GothamChess. Kalau ia yang jadi komentator mewakili masyarakat awam, mungkin saya tidak perlu bikin laporan pandangan mata ini.

Di akhir acara, Deddy berhasil meminta para pecatur elite yang hadir untuk menyebut predikat atau gelar apa yang layak disematkan setelah melihat cara bermain Dadang. Kedua komentator, seorang wasit Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi), dan Irene sepakat memberi Dadang gelar: “hampir master”.