Berita  

Kami Ngobrol sama Penjual Screenshot iPhone, Kenapa Bisnis Ini Tiba-tiba Hits?

kami-ngobrol-sama-penjual-screenshot-iphone,-kenapa-bisnis-ini-tiba-tiba-hits?

Kita semua tentu paham bila perkembangan teknologi akan menyediakan anak muda pilihan kerja yang makin unik dan variatif. Tapi rasanya tak terbayangkan bila salah satu jenis pekerjaan baru itu berdagang screenshot hape. Setidaknya, prospek bisnis ginian bukan yang otomatis kita pikirkan. 

Masalahnya kenyataan bicara begitu. Sejak pertengahan Agustus 2022, warganet yang lebih tua dari Gen Z dibuat bingung sama tren anak muda terbaru, karena mereka rela membayarkan sejumlah uang “cuma” buat dapetin screenshot dan screen record dari iPhone. Tren ini sebenarnya sempat hits di tahun lalu, tapi viral lagi di TikTok seminggu belakangan sampai akhirnya menyeberang ke Twitter.


Nih contoh-contoh promo jasa unik macam itu.

Kita ulas dulu teknis bisnisnya. Harga yang dibanderol buat mendapatkan skrinsut/screen record emang ga mahal, mengingat target pasarnya adalah pelajar. Contohnya harga yang ditawarkan Salsabila, pemain di bisnis ini yang juga mahasiswi 20 tahun domisili Pekanbaru. Doi pasang harga 500 perak/skrinsut dengan konten sesuai pesanan pembeli. Yang biasa diskrinsut adalah tampilan Twitter, Instagram, WA, dan Notes (aplikasi catatan di iOS).

Untuk jasa merekam layar, Salsa pasang tarif 1.000 perak/30 detik. Harga yang sama juga untuk pesanan skrinsut Photos (galeri foto di iOS) dengan maksimal 9 foto pilihan per skrinsut. Masih ada juga jasa repost Instagram Stories lewat iPhone.

Penjelasan barusan cukup bikin kita paham bahwa inti bisnis ini adalah iPhone-nya. Hmm, kalau sampai minta tolong repost IG Stories pakai iPhone, aku masih bisa paham.

Emang udah jadi pengetahuan umum mengunggah video dan foto di Instagram pada produk iPhone akan menghasilkan kualitas lebih optimal ketimbang ponsel berbasis Android. Ini karena bias algoritma platform medsos tersebut. Tapi skrinsut Notes? Screen record? Hal ini langsung kutanyakan ke Salsabila.

“Banyak [yang butuh jasa] skrinsut layar iPhone [karena] tampilannya. Contohnya, reposting Instagram di user iPhone sama user Android beda. [Yang pakai iPhone] jadi lebih enak dipandang. Kalau screen record, suara iPhone lebih jernih. Balik lagi ke selera masing-masing. Setiap aplikasi itu antara Android sama iPhone selalu dibedakan [tampilannya], seperti WhatsApp, Instagram, Telegram, TikTok. [iPhone] banyak plusnya, lebih elegan aja,” jawab Salsabila kepada VICE.

Well, die hard ponsel flagship Android dipastikan punya bantahan…. 

Pedagang skrinsut iPhone lain bernama Naya sih sepakat dengan Salsabila kalau tampilan iPhone lebih elegan dan simpel. Kemampuan kameranya dianggap memberi kualitas terbaik di media sosial, membuat Gen Z meminatinya. Banyak juga pelanggannya yang membutuhkan unggahan medsos berlatar iPhone karena merek itu masih dianggap prestisius. Hmm, sekali lagi, die hard ponsel flagship Android dipastikan punya bantahan untuk dua poin ini. 

Saat dihubungi VICE, Naya baru aja menyelesaikan pesanan satu skrinsut Apple Music dan satu skrinsut profil IG. dia enggak menyangkal bahwa bisnis ini berdiri di atas semangat gengsi.

“Saat ini, iPhone masih jadi hal mewah bagi kalangan tertentu. Banyak orang memandang lebih pengguna iPhone sehingga beberapa orang memesan jasa saya untuk kebutuhan Instagram Story atau sekedar flexing kepada orang-orang bahwa mereka pengguna iPhone,” ujar mahasiswa 18 tahun asal Jakarta Timur tersebut.

“Mereka [adalah] pengguna Android yang ingin menggunakan iPhone namun belum kesampaian. Mereka menggunakan jasa ini untuk memuaskan hal itu,” tambah Naya.

Selain perkara gengsi, tampilan “simpel dan elegan” iPhone juga digandrungi para kreator percakapan imajiner (fake chat) yang lagi marak di media sosial, khususnya Twitter. Fake chat adalah genre fiksi yang sedang berkembang di medsos, contohnya bisa dilihat di sini.

Lani, penyedia jasa serupa yang minta namanya disamarkan, menyebut tampilan iPhone memang jadi favorit para kreator konten fiksi medsos. “Banyak yang gunain jasa skrinsut iPhone ini buat bikin cerita yang berlatar chat gitu, semacam alternate universe [AU] di Twitter,” jawabnya singkat saat dihubungi VICE. Alasan ini dikonfirmasi Salsabila kalau emang banyak pembuat konten AU menggunakan iPhone karena tampilannya dianggap lebih menarik. 

Kepada Kompas, psikolog Marissa Meditania mengingatkan audiens untuk enggak segera menghakimi tren ini, misalnya karena dianggap dangkal. Soalnya pengguna jasa pasti punya alasan yang rasional bagi mereka, kayak butuh tampilan medsos yang rapi, pengin dianggap sebagai pengguna iPhone, hingga mencari validasi. 

Kalau ada yang perlu dikhawatirkan dari tren ini, itu adalah akses data pribadi. Ternyata pesanan tertentu mensyaratkan pemesan harus menyerahkan akses akunnya ke penjual. Contohnya pesanan repost IG Stories. Transaksi ini jelas rentan penyalahgunaan. Contoh kasus lain, konten kreator fake chat harus menyerahkan ide dan karya ceritanya terlebih dahulu kepada penyedia jasa untuk diskrinsut.