Berita  

Aku Coba Main BeReal, Saingan Instagram yang Boring Abis

Setiap kumpul bareng sobat, aku bisa menghabiskan satu jam sendiri cuma untuk memastikan Story yang hendak kuunggah ke Instagram sudah oke. Otakku berputar menentukan foto mana saja yang bagus di-upload, mesti pakai caption apa, serta urutan Story dan segala tetek bengeknya. Perhatianku sepenuhnya tertuju pada layar ponsel, sedangkan kening berkerut menandakan aku tengah berpikir keras. Jangan harap aku bisa diajak bicara jika sudah seperti ini.

Kedengaran ribet memang, tapi begitulah kenyataannya. Diriku telah terlatih untuk menampilkan keseharian semaksimal mungkin, seolah-olah feed Instagram adalah lembaran majalah yang mengilap. Aku juga harus menyeimbangkan segala hal yang menarik minatku dalam setiap unggahan: budaya populer, musik dan makanan. Ini sudah menjadi kebiasaanku sejak mengenal media sosial, dan aku senang bisa mengendalikan sebagian kecil dari hidupku. Namun, ada kalanya aku merindukan momen ketika main medsos masih terasa simpel, pada saat aku cuma bisa buka Friendster sebentar karena kuota terbatas.


Belakangan ini, aplikasi BeReal semakin mencuri perhatian netizen karena digadang-gadang anti ribet kayak Instagram. Jejaring sosial asal Prancis itu sebetulnya sudah ada sejak dua tahun lalu, tapi baru beredar di lingkaran pertemananku sebulan terakhir. Aplikasinya telah diinstal setidaknya 20 juta kali pada Juli, dan menjadi aplikasi teratas di App Store untuk wilayah AS.

Penasaran, aku pun mencoba BeReal.

Cara penggunaan aplikasinya cukup gampang. Setiap hari, kita akan menerima notifikasi untuk mengunggah satu foto. Kamu hanya punya waktu dua menit untuk memfoto apa pun yang ada di depanmu, lalu memuat postingannya ke aplikasi. BeReal akan mengambil gambar pakai kamera belakang dan depan tanpa filter. Melihat durasi waktunya yang sebentar, pengguna tak akan sempat mencari angle yang bagus atau memikirkan caption keren. Jadi tak jarang unggahannya menampilkan selfie kita yang belum siap atau pemandangan random. Postingan hari itu akan hilang keesokan harinya, sehingga kamu tidak bisa kepoin profil orang lain.

Ada yang bilang BeReal membosankan, dan aku mengakui itu. Sejak mengunduh aplikasinya minggu lalu, aku tak pernah sekali pun memikirkan ingin buat postingan apa di sana. Aku bahkan baru ingat punya aplikasi ini setelah menerima notifikasi bahwa sekarang waktunya “BeReal”.

Hanya kita seorang yang bisa melihat postingan-postingan lama yang kita buat. Di laman “Your Memories” aplikasi-ku, ada foto kamar yang selfienya cuma seperempat wajah saja. Lalu ada foto layar laptop saat aku sedang membaca artikel tentang sandwich, ditindih foto diriku mengenakan kaus yang sudah dua hari kupakai.

Aku mengambil foto-foto ini dalam dua menit saja, tanpa pusing memikirkan caption untuk menyertainya. Kalau boleh jujur, ada tantangan tersendiri saat waktunya upload foto ke BeReal. Aku berhati-hati agar tidak memfoto hal yang bersifat sensitif atau rahasia—sudah muncul kekhawatiran soal perlindungan data dan privasi pada aplikasi BeReal. Aku juga mesti menahan diri untuk tidak mengoreksi caption. Ini bagaikan finsta, atau tantangan “foto yang ada di depanmu (no cheating)” yang meramaikan InstaStory. Tapi berbeda dari kedua postingan semacam itu, yang masih bisa dipoles, kita benar-benar tidak bisa curang di BeReal.

Saat sedang menulis artikel ini, aku mendapat pemberitahuan berfoto sekitar pukul 5 sore. Aku hanya bisa memamerkan keyboard laptop, sedangkan teman-temanku foto lantai gym, mesin kopi di kantor atau kasur. Postingan mereka mengingatkan kalau kita cuma manusia biasa yang punya kesibukannya masing-masing. Bahwa kehidupan nyata kita tak seindah yang ditampilkan di Instagram.

Aku cuma butuh 30 detik untuk nge-scroll keseluruhan isi linimasa. Tak peduli seberapa keras diriku berusaha menggeser laman ke atas—harapannya dapat melihat postingan baru—tidak akan ada foto lain yang muncul. Ketika tidak ada lagi yang bisa dilihat, aplikasinya seperti sudah ditinggal lama oleh para penggunanya. Feed yang terbatas ini seolah-olah memaksaku untuk menaruh ponsel dan melanjutkan artikel yang sedang ditulis, menonton film yang tertunda atau menikmati makan bersama teman-teman. Aku benci mengakuinya, tapi inilah bagian terbaik dari aplikasi tersebut. Hal ini menjadi latihan mental agar aku tak terlalu bergantung pada konten yang tiada habisnya.

Aku hanya bisa mengecek postingan teman-temanku sehari sekali. Tidak ada alasan bagiku untuk sering-sering buka aplikasi karena postingannya sama saja seperti yang sudah kulihat beberapa jam lalu.

Aku tak mau melebih-lebihkan efek BeReal pada diriku, tapi pikiranku terasa lebih enteng karena tidak perlu repot-repot membuat postingan se-estetik mungkin. Aku pun tersadar, sebenarnya aku tak perlu mempertimbangkan hingga detail terkecil saat akan membuat postingan.

Walaupun begitu, aku tak yakin bisa menjauhkan diri sepenuhnya dari Instagram. Aku masih menggunakan aplikasi itu, dan tidak ada rencana menghapusnya dalam waktu dekat. Aku juga yakin suatu saat nanti BeReal bakalan mengikuti jejak platform medsos lainnya. Tanpa disadari, para penggunanya akan menciptakan jenis konten yang dianggap keren di aplikasi tersebut. Aku lalu penasaran akan seperti apa jadinya jika selebgram mulai keranjingan BeReal? Entahlah. Untuk saat ini, aku akan menikmati ketiadaannya.

Follow Therese Reyes di Twitter dan Instagram.