Berita  

Memahami Alasan Lansia Sampai Penyihir di Jerman Ikut Demo Menolak PLTU Batu Bara

memahami-alasan-lansia-sampai-penyihir-di-jerman-ikut-demo-menolak-pltu-batu-bara

Sekitar lima tahun lalu, pemerintah Jerman menggusur sebagian besar rumah penduduk di desa Lützerath, Jerman Barat, dalam rangka mewujudkan perluasan wilayah tambang batu bara yang terletak tidak jauh dari daerah itu. Langkah tersebut diawali dengan kesepakatan pemerintah negara bagian North-Rhine Westphalia untuk membuka jalan bagi perusahaan energi RWE memanfaatkan keberadaan batu bara lignit yang melimpah di sana.

Namun, rencana tidak berjalan sesuai harapan. Aktivis lingkungan mulai berdatangan dua tahun lalu, dan sengaja menempati rumah-rumah kosong sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Mereka bergeming, terlepas berbagai upaya aparat mengusir para aktivis dari sana. Mereka tidak sudi lahan itu diubah menjadi tambang batu bara. Bentrokan kerap terjadi, tapi puncaknya pada Rabu pekan lalu. Sekitar 15.000-35.000 pengunjuk rasa dari berbagai daerah berbondong-bondong memadati Lützerath guna mencegat polisi yang hendak melancarkan operasi pembongkaran. Polisi sampai menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa, yang dituduh menyulut kerusuhan.


Meski desa itu telah dikosongkan pada Minggu, aksi demonstrasi meluas ke kota-kota lain. Aktivis Swedia Greta Thunberg yang ikut aksi sempat ditahan Selasa (17/1) kemarin.

Partai Hijau, yang mendominasi kursi pemerintahan negara bagian itu, beralasan kesepakatan ini dibuat demi mempercepat realisasi program bebas batu bara pada 2030, delapan tahun dari rencana awal. Namun, aktivis meragukan klaim tersebut. Mereka menilai pembukaan lahan tambang batu bara akan melepaskan gas rumah kaca dalam jumlah besar, dan sebetulnya tak perlu menggunakan cara seperti ini untuk memastikan keamanan pasokan energi Jerman, seperti yang diklaim RWE.

Para pengunjuk rasa belum mau menyerah, walau mereka sadar sudah tidak ada harapan lagi untuk Lützerath. Mereka berharap kegigihannya mempertahankan desa ini dapat menjadi teladan bagi gerakan lingkungan di Jerman. VICE  mewawancarai beberapa pendemo untuk mendengar aspirasi mereka.

“Kita sadar mustahil jika semuanya akan baik-baik saja, tapi kita ada di sini sebagai bentuk solidaritas di tengah krisis.”

lelaki berambut pirang pakai jas hujan hitam
Jakob, 33.

“Saya menempuh ratusan kilometer dari Cologne demi membela Lützerath sejak Minggu kemarin. Saya memang sudah lama mengikuti perkembangan isu desa ini. Hati saya tergerak melihat betapa banyaknya orang tetap ikut demo, meski kita semua tahu sudah tidak ada harapan lagi. Mereka tak gentar memperjuangkan aspirasinya.

Jujur, saya akan merasa sangat putus asa jika pemerintah benar-benar membuka lahan tambang batu bara di Lützerath. Industri ini akan menghasilkan karbon yang dapat merusak lingkungan. Akan tetapi, seperti yang ditulis dalam buku ‘Arts of Living on a Damaged Planet’: “Kita sadar mustahil jika semuanya akan baik-baik saja, tapi kita ada di sini sebagai bentuk solidaritas melindungi Bumi di tengah krisis.’” – Jakob, 33 tahun, mahasiswa sejarah dan filsafat

“Masa depan akan hancur jika kita menyerah.”

Perempuan tua mengangkat poster berbentuk hati dengan tulisan Omas for Future
Birgid, 70 tahun.

“Masa depan akan hancur jika kita gampang menyerah, sehingga kita perlu aktif memperjuangkan terwujudnya masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita.

Kami sadar butuh aksi yang jauh lebih besar untuk merealisasikan itu, tapi setidaknya apa yang kami lakukan di Jerman bisa jadi contoh untuk yang lain. Kalaupun nantinya nasib Lützerath tidak dapat diselamatkan, perjuangan kami akan terdengar sampai ke seluruh dunia. Kami optimis gerakan ini akan tumbuh semakin besar.” – Birgid, 70 tahun, Anggota Omas for Future (Gerakan Para Nenek untuk Masa Depan)

“Kesepakatannya terdengar tidak masuk akal, tapi kok ya pemerintah malah mempertahankannya.”

Lelaki mengenakan jaket hitam
Leon, 26 tahun.

“Saya tergugah melihat banyaknya orang berdemonstrasi di Lützerath. Saya tak pernah ketinggalan berita seputar aksi ini. Saya mengikuti perkembangan terbarunya di media sosial, terutama Instagram dan Telegram.

Selain itu, saya juga tertarik dengan hasil riset yang jelas-jelas menentang perluasan lahan tambang di Lützerath. Kesepakatan yang dibuat RWE terdengar tidak masuk akal, makanya aneh banget kalau pemerintah ngotot mempertahankannya.

Saya rasa pemerintah tidak akan berubah pikiran, tapi saya masih punya harapan untuk mengatasi masalah iklim. Harapan inilah yang mempersatukan kita, jadi kita tidak boleh menyerah.” – Leon, 26 tahun, pekerja lepas di pabrik cokelat

“Saya berdemo untuk memberi ganjaran kepada pemerintah.”

Lelaki tua mengenakan jaket hijau
Joachim, 63 tahun

“Saya tahu Lützerath sudah pasti akan digusur. Apa yang terjadi di sini semuanya salah politikus yang sok-sokan menandatangani kesepakatan tolol itu. Saya datang ke sini untuk menunjukkan kami tidak akan diam saja melihat ulah mereka. Kami akan memastikan para politikus itu menerima ganjaran seberat mungkin. Ya, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka inginkan, tapi kami akan menentangnya. Mereka akan merasakan efeknya secara internasional.

Sejujurnya saya sudah tidak punya harapan untuk gerakan lingkungan, karena planet kita telah rusak oleh keteledoran politikus. Kita bisa saja mewujudkan program bebas batu bara bertahun-tahun yang lalu, tanpa harus menggusur Lützerath. Perusahaan besar seperti RWE cuma peduli soal uang, masa bodoh planet kita akan kayak gimana 30, 40 atau bahkan 50 tahun ke depan. Yang penting mereka bisa meraup keuntungan.

Tapi balik lagi, saya berunjuk rasa untuk melawan mereka. Saya sudah 40 tahun lebih aktif di gerakan seperti ini, jadi tidak ada alasan bagi saya untuk berhenti. Saya berharap bisa membuka mata orang-orang seumuran saya, terutama politikus yang korup dan kurang peduli dengan kerusakan lingkungan, bahwa para generasi tualah yang menyebabkan segala kekacauan ini. Kita telah gagal mencegah terjadinya kerusakan lingkungan, jadi kita harus membantu generasi muda memperbaikinya.” – Joachim, 63 tahun, dokter

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Germany.