Berita  

Maaf, Embel-Embel ‘Ramah Lingkungan’ di Produk Pelangsing Cuma Trik Marketing

maaf,-embel-embel-‘ramah-lingkungan’-di-produk-pelangsing-cuma-trik-marketing

Selama beberapa bulan terakhir, saya dibanjiri tawaran mempromosikan produk atau kampanye ‘pola makan sehat’ yang digadang-gadang ‘ramah iklim’. Para CEO ini tiada henti meminta bantuanku meraup keuntungan dari perasaan bersalah yang menghantui banyak orang terkait kerusakan iklim. Kegigihan mereka ini lama-lama mendorong saya untuk mematahkan mitos yang mereka jual.

Berbagai perusahaan mengklaim kita telah membantu menyelamatkan planet dan tubuh jika membeli protein shake ‘ramah iklim’ ciptaannya. Dengan sedemikian rupa mereka mengaitkan tubuh yang kurus dengan dedikasi kita terhadap keadilan iklim. Strategi iklan produk wellness penuh gimmick dan didasarkan pada kebohongan bahwa setiap benda “berkelanjutan” yang kita beli dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik terkait krisis iklim.


Menggunakan pendekatan kelas dan reduksionis terhadap kebiasaan makan sehat, kampanye semacam ini biasanya terpaku pada jejak karbon yang berasal dari produksi makanan olahan dan selanjutnya menyalahkan mereka-mereka yang masih mengonsumsinya. Perusahaan meniadakan isu-isu struktural — seperti kemiskinan, limbah makanan dan keterbatasan sumber makanan yang sehat dan terjangkau — dan menuduh orang yang hanya bisa mengonsumsi makanan murah dan padat kalori sebagai penyebab kerusakan iklim.

Pada kenyataannya, merekalah korbannya. Kenaikan harga dan ketimpangan wilayah memaksa mereka memakan makanan yang rendah nutrisi dan kurang bervariasi. Perjuangan mereka hidup dalam kemiskinan, atau tinggal di daerah-daerah yang secara geografis rentan terkena dampak krisis iklim, disamarkan demi ocehan-ocehan yang bersikukuh bahwa masalah lingkungan adalah tanggung jawab individu dan kita berkewajiban membuat pilihan yang lebih baik — didominasi gambar-gambar berkilap dari para influencer.

Alih-alih didoktrin oleh pemasaran wellness, kita seharusnya menolak jika perusahaan menggunakan wajah kita untuk mengambinghitamkan individu atas bencana iklim. Krisis iklim bukan suatu kebetulan, juga bukan kesalahan kita (kecuali jika kamu miliarder…). Krisis iklim merupakan hasil dari sistem kapitalisme dan kolonialisme yang ekstraktif dan eksploitatif selama berabad-abad — dipelopori oleh kalangan elit yang tak memiliki niatan untuk mengakhiri kebiasaan merusak mereka, serta melakukan segala hal untuk melanjutkan bisnisnya.

Namun, dengan meningkatnya ketertarikan publik terhadap gerakan iklim selama beberapa tahun terakhir, perusahaan besar berlomba-lomba membebani kesalahan mereka pada konsumen, sebagai upaya yang menyedihkan untuk terus meraup keuntungan di tengah kehancuran planet.

Lagi pula, selama kita percaya masalah iklim adalah tanggung jawab pribadi dan kita bisa membantu menyelesaikannya dengan membeli produk dari perusahaan yang menjadi penyebab kerusakannya, kita takkan pernah terpikir untuk meminta pertanggungjawaban dari pelaku sebenarnya. Di sisi lain, perusahaan terus menerima pemasukan. Ini merupakan situasi yang sama-sama menguntungkan bagi kapitalisme dan darurat iklim.

Aksi iklim yang dijadikan barang dagangan, serta bagaimana hal itu dimanfaatkan dalam budaya wellness, telah menciptakan narasi individualis yang sebenarnya hanya melayani kepentingan perusahaan besar dan kelas penguasa. Dengan menimpakan kesalahan pada konsumen dan tubuhnya, perusahaan bisa dengan seenaknya merusak planet. Karena itulah sudah waktunya kita berhenti melihat ke dalam saat menyalahkan sesuatu. Sebaliknya, kita harus mempertanyakan apa yang telah dilakukan oleh 100 perusahaan yang bertanggung jawab atas 71% emisi global untuk mengatasi perubahan iklim selama ini.

Kita tidak boleh membiarkan anak muda mengorbankan potensi terciptanya gerakan kolektif karena terlalu fokus pada diri mereka sendiri dan produk yang dikonsumsi. Sudah saatnya kita berhenti mempromosikan pola makan yang tidak teratur dan membatasi melalui narasi orthorexia yang berlebihan dan tidak sehat. Sudah waktunya juga bagi kita untuk berhenti membantu produsen wellness aneh mengiklankan produk pelangsing mereka demi “manfaat lingkungannya”. Kita perlu mengambil sikap melawan budaya internet yang berusaha merusak tubuh dan planet, meski tren wellness ‘ramah iklim’ menyatakan sebaliknya.

Sudah waktunya bagi perusahaan-perusahaan toksik ini untuk berhenti menargetkan perempuan muda yang sadar lingkungan demi keuntungan. Kini saatnya perusahaan menangani jejak karbon yang dihasilkan dari proses produksi barang wellness ‘ramah iklim’ mereka selama ini.

Kita tidak boleh melanggengkan mitos bahwa tubuh adalah cerminan kepedulian kita terhadap Bumi. Kita harus menghadapi kenyataan agresif bahwa konsumsi makanan kita tidak menentukan kelestarian planet. Memaksa orang untuk membatasi makanan atau menjalani diet yang tidak sehat hanya akan merugikan kita sebagai individu, serta sebagai kolektif yang memiliki kekuatan untuk mengambil tindakan nyata mengatasi darurat iklim. Sama halnya, kita tidak boleh dipermalukan dengan rasa bersalah atas kondisi material kita. Pasalnya, krisis ketidakstabilan pangan yang menyatu dengan kemiskinan dan darurat iklim berakar pada sistem kapitalisme yang sama. Untuk menyelesaikan masalah ini, kita perlu memerangi ketidaksetaraan di setiap kesempatan. Membeli produk wellness semacam ini sama saja dengan terlibat dalam sistem yang menyebabkan krisis tersebut, dan hanya akan memperburuk masalah.

Sudah waktunya kita berpikir kritis tentang cara kita memandang krisis iklim dan tubuh kita. Kita tak boleh lagi mengandalkan narasi individualis mengerikan yang sengaja dirancang perusahaan untuk mengambil untung dari perasaan cemas, penderitaan dan kerusakan Bumi. Mustahil bagi kita untuk memerangi perubahan iklim sendirian, alias hanya dengan mengonsumsi produk wellness ala-ala Instagram

Jika kamu memang menginginkan hasil yang lebih nyata, kamu bisa turun langsung ke lapangan dan memprotes pihak-pihak yang membuat Bumi tak layak dihuni. Kamu bisa memulainya dengan memboikot perusahaan-perusahaan yang berkontribusi pada krisis iklim, mengikuti aksi, belajar lebih banyak tentang keadilan iklim, atau berdonasi kepada organisasi-organisasi yang mengedepankan kelestarian lingkungan. Kamu juga bisa memblokir semua akun jualan yang membebani aksi iklim pada pola makanmu. Kamu bisa turut andil dalam berbagai gerakan yang dapat menuntaskan akar masalah krisis iklim. Membeli produk wellness bukan salah satunya.