Berita  

Kumpulan Foto Jadul Pesta Rave Paling Gila di Goa yang Digelar ‘Generasi Bunga’

kumpulan-foto-jadul-pesta-rave-paling-gila-di-goa-yang-digelar-‘generasi-bunga’

Pandemi tak mampu menghentikan pesta rave yang memeriahkan pantai-pantai Goa, negara bagian di barat India. Pesta penuh kegilaan akan terus berlanjut hingga fajar selama beberapa hari berturut-turut, tak peduli bagaimana situasinya. 

Disco Valley adalah lokasi pesta rave populer di Vagator, Goa


Disco Valley adalah lokasi pesta rave populer di Vagator, Goa, pada 1988. Foto oleh Ray Castle / I Love Goa

Sebelum terkenal dengan kelab malam dan pantainya yang padat, Goa merupakan tempat berkumpul para hippie yang memancarkan semangat kebebasan dan inklusivitas.

Ketika gerakan hippie mengalami pertumbuhan stabil di Eropa dan Amerika yang dilanda Perang Dingin pada era 60-an, pengelana dari negara-negara ini mendatangi Asia Selatan, sering kali dengan berjalan kaki, karena tertarik pada sifat spiritual dari anak benua tersebut. Eddie “Delapan Jari”—pengembara asal Amerika yang menginspirasi sebuah merek craft beer—menginjakkan kaki di kota nelayan Goa yang sepi pada 1960-an.

Eddie “Delapan Jari” tampil di pesta rave pada 1978.
Eddie “Delapan Jari” tampil di pesta rave pada 1978. Foto oleh Sunny Schneider / I Love Goa.
Sekelompok hippie bersantai di Goa pada ‘60-an dan ‘70-an.
Sekelompok hippie bersantai di Goa pada ‘60-an dan ‘70-an.
Turis asing di atas kapal
Turis asing berlayar bersama nelayan di sungai Chapora pada 1986.

Sebelum dianeksasi oleh India pada 1961, negara bagian kecil ini dijajah oleh Portugis. Pengaruh Eropa yang kuat menjadikan Goa tempat yang lebih ramah kepada orang asing dibandingkan dengan negara bagian lain. Pelancong hippie dari seluruh dunia mulai berdatangan silih berganti begitu mereka mengetahui betapa santai dan bebasnya Goa. Otoritas di sana tidak seketat tempat lain.

Lelaki mengisap bong
Foto berjudul “Bong Smokers” diambil di Anjuna pada 1997. Foto oleh Wendy Wood / I Love Goa.

Sementara pendatang pertama memadati pantai selatan Colva, justru desa Anjuna lah yang memulai gerakan psikedelik di sana. Konon tidak ada kantor polisi di desa pada saat itu, sehingga pantainya yang masih asli dan tenang menjadi tempat berkembang biaknya kancah psikedelik.

Obat-obatan macam LSD dan MDMA, yang legal di AS hingga 1968 dan 1985, dijual bebas di sana. Selain itu, pendatang juga terpesona oleh charas, produk turunan ganja yang terbuat dari getah bunga tanaman asli India. Charas sempat diakui dan dikonsumsi secara luas sebelum akhirnya dilarang pada 1985.

Dua wisatawan asing merokok
Hash, LSD dan obat-obatan lainnya dijual bebas di Goa berkat penegakan hukum yang longgar di Anjuna. Foto oleh Michael Palmieri / I Love Goa.

Penduduk asli Goa Joe “Banana” Almeida membuka kafe di Anjuna agar turis lebih cepat berbaur dengan budaya lokal. Dia menjembatani keterbatasan bahasa antara warga setempat dan wisatawan asing. Goa lambat laun menjadi pusat pesta rave semalam suntuk (Full Moon party), serta perayaan malam Tahun Baru yang berlangsung seminggu penuh.

Pesta semalam suntuk di pantai Anjuna pada 1970.
Pesta semalam suntuk di pantai Anjuna pada 1970. Foto oleh Gilbert Garcia / I Love Goa
Pesta di atas benteng Chapora, Goa
Pesta di atas benteng Chapora, Goa, pada 1988. Foto oleh Piers Ciappara / I Love Goa

Selama beberapa dekade, kancah musik Goa berkembang dari psikedelik rock menjadi musik elektronik. Goa merupakan negara bagian India pertama yang memainkan aliran musik ini, dengan lagu disko ciptaan band synth-pop Jerman Kraftwerk, pada 1970. Lagu ini diperkenalkan oleh seorang pelancong yang hobi memutar kasetnya.

Konser akustik di Goa pada 1970-an
Konser akustik di Goa pada 1970-an, sebelum diambil alih oleh musik elektronik.
Rumah pohon
Rumah pohon di Arambol, Goa, pada 1970-an.

Negara bagian itu mulai mengalami pergerakan stabil ke arah musik elektronik setelahnya, meski kebanyakan pelancong hippie awalnya tetap bertahan dengan musik akustik yang menyeimbangi ketenangan alam.

Sekelompok hippie
Foto oleh Michael Palmieri / I Love Goa.

Gerakan cinta damai komunitas hippie mulai memudar pada pertengahan 80-an. Budayanya mulai diambil alih oleh DJ psikedelik trance seperti Laurent, Fred Disko dan Goa Gil. Rave underground Goa semakin dikenal secara internasional sejak memasuki era 90-an.

Goa Gil nge-DJ di Anjuna, Goa
Goa Gil tampil di Anjuna pada 1993.

Dewasa ini, pesta “underground” Goa bahkan dikomersialkan secara besar-besaran, sering kali dipandang sebagai acara meriah yang dipenuhi penonton teler yang bersuka ria semalam suntuk di bawah gemerlap lampu—terkadang tidak aman.

Akan tetapi, pesta rave psikedelik Goa selalu mengejar inklusi, kebebasan dan kemampuan menjalani hidup layaknya tak ada hari esok. Untuk mengabadikan energi yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata ini, seseorang membuat laman Facebook “I Love Goa” untuk mengenang momen terliar dari era-psikedelik Goa. 

Turis asing berpesta di Anjuna pada 1991.
Turis asing berpesta di Anjuna pada 1991.
Penonton Festival Bamboo Forest
Festival Bamboo Forest di Goa pada 1993 dan 1994.

“Banyak orang-orang di foto ini kehilangan kontak teman mereka selama pesta di Goa pada 70-an dan 80-an. Mereka kembali menemukan teman-temannya melalui laman ini,” ujar admin anonim kepada VICE.

Pasar loak di Anjuna.
Pasar loak Anjuna pada 1970-an. Foto oleh Jacques Lasry / I Love Goa
Wisatawan memadati pantai Arambol untuk berpesta
Pesta di pantai Arambol pada 1991.

“Foto-foto ini menggambarkan bahwa pada 70-an dan 80-an yang dikenal sebagai era hippie, orang menikmati hidup dengan menari bersama teman mereka di tengah alam, berbeda dari generasi zaman sekarang yang kerjaannya hanya makan di restoran mahal.”

Latihan sirkus di Anjuna pada 1991.
Anggota Rainbow Circus berlatih bersama penduduk lokal pada 1991.
disco valley
Disco Valley pada 1992.
Pesta semalam suntuk pada 1983
Pesta semalam suntuk pada 1983.
Penonton menari bersama di Goa.
Perempuan menjual hash
Pasar loak Anjuna pada awal 70-an. Hash dijual bebas saat itu.
Wisatawan asing menari dengan riang gembira.
Wisatawan asing menari dengan riang gembira. Foto oleh Jacques Lasry / I Love Goa

Follow Shamani di Instagram dan Twitter.